SURAKARTA (wajah.co)– Menapaktilasi sejarah lahirnya organisasi wartawan pertama di Indonesia membawa kami berziarah ke Kota Surakarta, Provinsi Jawa Tengah.
Di kota Surakarta, ternyata banyak menyimpan peninggalan sejarah yang menjadi saksi keterlibatan pers dalam menggalang kekuatan melawan kolonial, hingga menjadi tonggak lahirnya organisasi wartawan tertua di Indonesia.
Perjalanan itu bermula dari upaya untuk lebih mengenal sejarah organisasi yang lekat dengan kemerdekaan Republik Indonesia 1945. Sebab, setahun setelah itu, organisasi ini lahir: Persatuan Wartawan Indonesia.
Sejarah lahirnya pun menarik dikupas, selain kiprahnya setelah kemerdekaan republik serta dinamika melewati berbagai orde pemerintahan sejak Proklamasi 45.
Selasa (22-4-2025) sekira pukul 10.00 WIB, kami menemui sejumlah wartawan pengurus harian PWI Surakarta. Sambutannya hangat. Ketua PWI Surakarta Anas Khairul Alim memandu kami untuk masuk ke Monumen Pers Nasional–dulunya tempat kongres pertama PWI, tahun 1946.
“Sugeng rawuh, monggo,” katanya memberi isyarat kepada kami dengan bahasa jawa, setelah memberikan ucapan selamat datang kepada rombongan PWI Pesawaran, Lampung.
Bangunan monumen itu berdiri dua lantai di Jalan Gajahmada Nomor 59, Kota Surakarta. Lantai pertama berisi infografis sejarah pers dari masa ke masa, figur para wartawan yang berjuang melawan penjajah, arsip surat kabar hingga pemancar radio dan berbagai alat bantu penyiaran. Di lantai dua terdapat ruang baca arsip digital serta perpustakaan yang menyediakan banyak koleksi buku bacaan.
Mulanya gedung yang dibangun pada 1918 itu digunakan oleh keluarga Keraton Mangkunegara untuk menjamu para tamu dengan menyediakan panggung pertunjukan. Dahulu, namanya Societeit Sasana Soeka. Kemudian dihibahkan kepada pemerintah dan diresmikan oleh Presiden Suharto pada 9 Februari 1978.
Anas menuturkan, sejarah kelahiran organisasi PWI tak lepas dari peran para wartawan dalam kancahnya melalui tulisan. Menyebarkan propaganda, serta menyerukan perlawanan terhadap kolonial pascamerdeka.
“Gedung ini dulunya digunakan untuk Kongres pertama PWI, pada 9-10 Februari 1946. Kongres digelar selama dua hari dan dihadiri 180 wartawan dari berbagai daerah kala itu,” kata Anas.
Pada momentum penting sejarah lahirnya PWI itu, tercatat dua tokoh bangsa yang menghadiri Kongres serta memberikan pidatonya: Adam Malik pendiri kantor berita Antara, serta bapak republik Tan Malaka.
Keduanya menyampaikan pidatonya terkait peran wartawan dalam mendukung kemerdekaan republik, serta keterlibatan dalam perjuangan menghalau agresi militer Belanda. (Red)


