Vietnam (wajah.co)– Pagi hari di Kota Ho Chi Minh, Vietnam, terasa lebih tenang dari biasanya. Lalu lintas di jalanan kota cukup ramai namun tetap tertib dan jauh dari keriuhan seperti di kota-kota besar pada umumnya.
Rombongan mahasiswa Magister Ekonomi Universitas Lampung, bersiap lebih awal pada Rabu pagi (29-10-2025), karena hari ini, jadwal kami berkunjung ke kampus University of Economics and Law (UEL), salah satu kampus bergengsi di bawah naungan Vietnam National University.
Perjalanan ke sana memakan waktu sekitar tiga puluh menit dari penginapan di jantung kota Ho Chi Minh.
Sepanjang jalan, motor-motor tetap mendominasi, tapi suasananya terasa lebih teratur dari pada hari pertama kami tiba di kota ini.
Ketika bus rombongan mahasiswa berhenti di depan gerbang kampus, udara pagi bercampur aroma bunga dari taman di halaman depan. Gedung kampusnya modern dan bersih, didominasi warna putih dan hijau muda, dengan logo palu arit di sejumlah lokasi.
Di ruang kuliah besar di lantai dua, kami disambut oleh Mr. Le Hoanh Su, Ph.D, Dean of Faculty of Information Systems. Orangnya ramah, berkacamata tipis, dan berbicara dengan nada tenang, namun terkesan menyenangkan.
“Welcome to UEL,” katanya sambil tersenyum menyambut. “We are very happy to have students from Indonesia here,” katanya di sela senyum hangat.
Ia memulai sesi dengan presentasi tentang perekonomian Vietnam. Slide pertama menunjukkan angka GDP Vietnam tahun 2024 yang mencapai sekitar 430 miliar dolar AS, dengan pertumbuhan tahunan sekitar 5,6 persen.
Menurutnya, sektor industri manufaktur dan ekspor masih menjadi penggerak utama, terutama produk elektronik, tekstil, dan hasil pertanian.
“Vietnam is a small country, but we are open to the world,” katanya. Ia menjelaskan bahwa perekonomian Vietnam berkembang pesat setelah reformasi Đổi Mới tahun 1986, ketika pemerintah mulai membuka diri terhadap pasar bebas dan investasi asing. Seperti Indonesia di tahun pertama Kabinet Pembangunan Suharto, yang membuka diri kepada investasi asing.
Ia juga menyinggung soal kemiskinan yang terus menurun, investasi asing langsung yang tinggi dari Korea Selatan dan Jepang, serta tren baru di bidang teknologi dan digital transformation. “Our challenge now is productivity and innovation,” ujarnya sambil menunjuk grafik pertumbuhan industri digital.
Menariknya, saat sesi tanya jawab, ia tiba-tiba menyebut nama Joko Widodo.
“Indonesia is doing very well. I admire your former president, Mr. Jokowi. For me, Jokowi is the greatest leader in Southeast Asia,” katanya dalam bahasa Inggris yang jelas. Lalu ia tersenyum lebar. “He’s my biggest idol,” ujarnya.
Diskusi kemudian berlanjut dengan para mahasiswa UEL. Mereka fasih berbahasa Inggris, bahkan lebih lancar daripada kami.
Kami sempat bertukar pandangan soal ekonomi Indonesia. Mereka penasaran tentang hilirisasi nikel, peran UMKM, dan ekonomi digital.
Salah satu dari mereka bertanya, “How does Indonesia manage its natural resources?,” pertanyaan yang menarik.
Aku mencoba menjelaskan sebisaku. “We try to add more value before exporting raw materials. But it’s not easy,” kataku. Mereka mengangguk serius, lalu menimpali dengan pengalaman serupa di Vietnam.
Suasana diskusi terasa akrab, seperti berbicara dengan teman lama. Tidak ada jarak antara mahasiswa Indonesia dan Vietnam yang ada hanya rasa ingin tahu dan keinginan saling belajar.
Setelah sesi selesai, Mr. Hoanh Su menyalami kami satu per satu. “I hope this friendship continues,” katanya.
Kami berfoto bersama di gedung fakultas. Di belakang kami, bendera Vietnam dan Indonesia serta bendera negara asia tenggara lainnya berkibar berdampingan.
Menjelang sore, kami kembali ke pusat kota. Di alun-alun depan patung Ho Chi Minh, suasananya ramai. Bunga dan lampu sedang dipasang di sepanjang jalan. Sepertinya akan ada festival musik malam ini.
Kami duduk sebentar di tepi jalan, melihat orang-orang lewat turis, mahasiswa, keluarga kecil yang membawa anak-anak. Lampu-lampu mulai menyala perlahan, memantulkan cahaya di trotoar basah setelah hujan sore.
Kuliah di kampus UEL, kami belajar tentang ekonomi dan keterbukaan. Dari jalan-jalan kota, kami belajar bahwa Vietnam tumbuh bukan hanya karena angka-angka, tapi juga karena semangat muda yang terus bergerak.
Vietnam salah satu negara yang berusaha mendorong ekonominya untuk bangkit dan bergeliat di tengah paham komunisme. Sekaligus membuka wacana baru, bahwa ternyata palu arit juga bisa berdansa dengan investasi asing. (jay)


