Senin, September 21, 2026
No menu items!
IKLAN DISINI

Guyub dan Penuh Makna, Warga Bogorejo Nikmati Wayang Kulit Semalam Suntuk

Pesawaran (Wajah.co) – Suasana khidmat, guyub, sekaligus meriah menyelimuti Pagelaran Wayang Kulit Semalam Suntuk di Desa Bogorejo, Kecamatan Gedong Tataan, Sabtu malam (27/6/2026) atau bertepatan dengan 12 Muharram 1448 Hijriah. 

Kegiatan bertajuk “Sesaji Rojosuyo” tersebut digelar dalam rangka Ruwat Bumi sekaligus memperingati Hari Jadi Desa Bogorejo ke-34

Pagelaran budaya yang menghadirkan dalang Ki Gondo Suharno, S.Sn dari Sewon, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Kepala Desa Bogorejo Hermansyah menegaskan bahwa kegiatan Ruwat Bumi dan pagelaran wayang kulit bukan sekadar hiburan, melainkan sarana untuk menanamkan nilai-nilai kehidupan kepada masyarakat.

“Alhamdulillah, malam ini Bogorejo dipenuhi berkah. Wayang Kulit ‘Sesaji Rojosuyo’ kita gelar bukan hanya untuk hiburan. Ini tuntunan. Lewat lakon ini kita belajar tentang kepemimpinan yang adil, kerukunan, dan rasa syukur atas nikmat bumi yang kita pijak,” kata Hermansyah.

Ia menjelaskan, selama dua periode menjabat sebagai kepala desa, kegiatan Ruwat Bumi dan pagelaran wayang kulit telah dilaksanakan sebanyak sembilan kali sebagai bentuk komitmen melestarikan budaya warisan leluhur.

Hermansyah juga mengajak seluruh masyarakat untuk terus memperkuat sinergi antara warga dan pemerintah desa demi mewujudkan kemajuan Desa Bogorejo.

“Untuk mewujudkan cita-cita Desa Bogorejo, kita harus sinergi antara warga dengan pemerintah desa. Kita juga harus bangga dengan identitas kita, karena bangsa Indonesia di mata dunia tidak bisa ditukar dengan kecanggihan. Insyaallah Bogorejo ke depan soyo tentrem, soyorejo,” ujarnya.

Sementara itu, Surawan, yang mewakili Camat Gedong Tataan, memberikan apresiasi atas upaya Pemerintah Desa Bogorejo dalam menjaga dan melestarikan budaya daerah di tengah derasnya arus modernisasi dan pengaruh budaya asing.

“Kami dari Kecamatan Gedong Tataan sangat mengapresiasi. Di tengah gempuran budaya asing, Desa Bogorejo justru mengangkat budaya sendiri. Wayang adalah media dakwah, media pendidikan karakter, dan yang paling penting, menjadi perekat persatuan warga,” kata dia.

Ia juga mengatakan, Pagelaran Wayang Kulit Semalam Suntuk ini menjadi bukti bahwa tradisi dan budaya lokal tetap memiliki tempat di hati masyarakat.

“Melalui kebersamaan dan semangat gotong royong, warga Bogorejo terus menjaga warisan leluhur agar tetap hidup dan diwariskan kepada generasi mendatang. Tradisi hidup karena dirawat, bukan hanya diingat,” pungkasnya (Indra).

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments