SURAKARTA (wajah.co)– Sejarah lahirnya Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dipengaruhi banyak hal, mulai dari kondisi politik era kemerdekaan Republik Indonesia hingga kesadaran masyarakat yang meningkat untuk berorganisasi.
Pascamerdeka, Indonesia sebagai republik yang baru terbentuk dimanfaatkan oleh sejumlah kaum pergerakan juga wartawan untuk membentuk organisasi, termasuk di dalamnya PWI.
Sebelum PWI terbentuk, ada satu organisasi wartawan yang lebih dulu terbentuk: Persatoean Djoernalis Indonesia (PERDI). Berdiri tiga belas tahun sebelum PWI. Tepatnya pada Sabtu 23 Desember 1933 di Surakarta.
Pembentukan PERDI tidak lepas dari hasil rapat sejumlah wartawan Indonesia yang tiba di sana dalam rangka menghadiri Kongres Indonesia Raya II atau yang kerap disebut Kongres Pemuda II, pada 27-28 Oktober 1928 di Jakarta. Nama PERDI diusulkan oleh J.D. Sjaranamual Pemimpin Redaksi surat kabar Soeara Oemoem di Surabaya.
Sejarah itu terungkap saat kunjungan Studi Komparasi sekaligus napak tilas rombongan PWI Kabupaten Pesawaran ke Monumen Pers Nasional Surakarta pada Selasa (22-4-2025).
Berdasarkan infografis yang terpajang pada ruangan Monumen Pers Nasional, berdirinya PERDI didasari atas spirit perjuangan untuk melawan pengekangan penjajah.
“PERDI sendiri didirikan dengan visi, menegakan kedudukan Pers di Indonesia sebagai terompet perjuangan bangsa. Dengan misi, kembalinya Djoernalis ke kittahnya yakni medan politik,” seperti tertulis dalam informasi bergambar di Monumen Pers Nasional tersebut.
PERDI didirikan oleh para tokoh wartawan Indonesia seperti, J.D. Sjaranamual, Soetopo Wonobojo, RM Soedarjo Tjokrosisworo, Samsoe Hadiwijoto, Bakrie Soeraatmaja, WR Supratman, Mohammad Yamin, AM Sipahutar, Soemanang, Adam Malik, R.M.H. Woerjaningrat, Dr. Soetomo, Sjamsuddin Sutan Makmur, Parada Harahap, dan M. Tabrani.
Mulanya, keanggotaan PERDI sangat terbuka untuk seluruh wartawan, tanpa memandang agama suku dan pilihan politik.
Namun kemudian, pada tahun 1935 organisasi itu lebih selektif dalam merekrut anggota. Seiring waktu PERDI memiliki aspirasi politik tersendiri mengenai tindakan-tindakan yang dikeluarkan pemerintah Belanda.
Dalam sejarahnya, PERDI sendiri
Alkisah Kongres PERDI diadakan bersamaan dengan Kongres gerakan lainnya, Kongres PERDI sendiri mengambil mosi mengenai larangan yang diadakan Residen Surakarta tentang adanya Kongres Rakyat Indonesia kedua di Solo.
PERDI mengadakan kongres pertama di solo pada 25-26 Juni 1934 diikuti sebanyak 500 orang diantaranya jurnalis dari Belanda De Geer dan J. Takei jurnalis dari Jepang, selanjutnya kongres digelar setiap tahun kecuali pada tahun 1936.
Kemudian pada 1 Maret 1941 sejumlah wartawan memutuskan keluar dari PERDI dan berencana mendirikan PWI. Namun PWI akhirnya lahir pada 1946.
Di kota Surakarta inilah awal berdirinya Lembaga Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) pada 9 Februari 1946 dengan ketua umum Soemanang. PWI sebagai Lembaga pers pertama dan tertua di Negara Republik Indonesia.
Ketua PWI Kabupaten Pesawaran M. Ismail SH. Mengatakan tujuan utama dalam Studi Komparasi ke Kota Surakarta itu untuk menambah pengetahuan, akan sejarah cikal bakal atau awal berdirinya PWI.
“Seluruh Wartawan anggota PWI Kabupaten Pesawaran harus lebih memahami sejarah berdirinya organisasi wartawan terbesar dan lembaga yang menjadi kebanggan kita semua,” ucapnya.
Selain itu, menurut Ismail wartawan harus paham dan mengerti sejarah yang telah ditorehkan oleh tokoh-tokoh jurnalis pendahulu tentunya.
“Napak tilas dengan hadirnya kita sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan kepada para tokoh dan para pendiri PWI yang menjadi tempat bernaung para Wartawan khususnya PWI Kabupaten Pesawaran akan mendapatkan keberkahan dan kesejahteraan,” kata Ismail. (Yudhi)


