SURAKARTA (wajah.co)– Monumen Pers Nasional merupakan salah satu tempat bersejarah bagi para insan pers di seluruh Indonesia.
Pasalnya, di kota yang masuk dalam wilayah administratif Kota Surakarta, Provinsi Jawa Tengah ini, terdapat monumen yang menyimpan sejarah penting tentang dunia jurnalistik.
Tahukah anda sejarah Monumen Pers Nasional? Monumen Pers Nasional Indonesia ini menyimpan informasi sejarah perkembangan pers nasional di Indonesia.
Benda-benda bersejarah terkait pers, dari mulai koran dan majalah kuno hingga koleksi barang seperti mesin ketik, pemancar radio, kamera, hingga memorabilia sejumlah tokoh wartawan nasional. Selain itu ada pula berbagai layanan lain di dalamnya.
Untuk mengetahui lebih lanjut tentang Monumen Pers Nasional simak sejarahnya berikut ini.
Dari penulusuran oleh awak media ini di lokasi monumen, berdirinya Monumen Pers Nasional diprakarsai oleh KGPAA Mangkunegara VII, Pangeran Adipati Aryo Prangwedana, yang dirancang oleh Mas Aboekasan Atmodirono, seorang arsitek asal Wonosobo.
Sebelum didirikannya Monumen Pers Nasional pada tahun 1918, tempat ini adalah balai perkumpulan dan ruang pertemuan (Societeit Sasana Soeka) oleh Mangkunegara VII.
Setelah dibangun, Monumen Pers Nasional juga jadi tempat lahirnya sebuah organisasi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) pada tanggal 9 Februari 1946. Sehingga monumen ini memiliki arti penting bagi pers nasional di Indonesia.
Pada tahun 1933, Sarsito Mangunkusumo dan sejumlah insinyur lainnya bertemu di gedung ini dan merintis Solosche Radio Vereeniging, radio publik pertama yang dioperasikan pribumi Indonesia, 13 tahun kemudian, pada tanggal 9 Februari 1946, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dibentuk di gedung ini.
Tanggal 9 Februari 1956, dalam acara perayaan 10 tahun PWI, beberapa wartawan kenamaan Indonesia seperti Rosihan Anwar, B.M. Diah, dan S. Tahsin menyarankan agar mendirikan sebuah yayasan yang menaungi pers nasional.
Yayasan ini kemudian baru diresmikan pada 22 Mei 1956. Dan baru 15 tahun kemudian yayasan ini berencana mendirikan museum fisik, dan secara resmi diumumkan oleh Menteri Penerangan Budiarjo pada tanggal 9 Februari 1971.
Nama “Monumen Pers Nasional” ditetapkan tahun 1973, dan pada tahun 1977 lahan serta bangunan gedung Monumen Pers Nasional disumbangkan kepada pemerintah di bawah Departemen Penerangan RI. Dan Monumen Pers Nasional kemudian diresmikan oleh Presiden Soeharto dan dibuka umum pada tanggal 9 Februari 1978 dengan penandatanganan prasasti setelah dilengkapi beberapa bangunan.
Dalam kutipan pidatonya, Presiden Soeharto mengingatkan pers akan bahaya kebebasan. Ia menyatakan, “menikmati kebebasan demi kebebasan itu sendiri adalah keistimewaan yang tak mampu kita dapatkan”.
Apa apa saja di Monumen Pers Nasional?
Monumen Pers Nasional menyediakan beberapa layanan. Isi Monumen Pers Nasional terdiri dari perpustakaan, arsip media cetak, dan museum pers nasional, dengan sebagian besar koleksi museum merupakan hasil sumbangan dari Soedarjo Tjokrosisworo.
Museum ini memiliki lebih dari satu juta surat kabar dan majalah sejak masa sebelum, dan sesudah Revolusi Nasional Indonesia dari berbagai daerah di Nusantara.
Koleksinya juga meliputi teknologi komunikasi dan teknologi reportase, seperti penerbangan, mesin ketik, pemancar, telepon dan kentongan besar.
Bagian depan ruang depan utamanya dihiasi pahatan kepala tokoh-tokoh penting dalam sejarah jurnalisme Indonesia, termasuk Tirto Adhi Soerjo, Djamaluddin Adinegoro, Sam Ratulangi, dan Ernest Douwes Dekker.
Di belakang ruang depan utama terdapat enam diorama yang menggambarkan komunikasi dan pers sepanjang sejarah Indonesia.
Diantaranya memperlihatkan berbagai bentuk komunikasi dan berita di Indonesia pra-kolonial. Memperlihatkan pers di era kolonial, termasuk surat kabar pertama di Hindia Belanda milik Vereenigde Oostindische Compagnie, Memories der Nouvelles (1615), surat kabar pertama yang dicetak di Hindia Belanda, Bataviasche Nouvelles (1744), dan surat kabar bahasa Jawa pertama di Hindia Belanda, Bromartani (1855).
Kemudian, menggambarkan pers pada masa pendudukan Jepang, menggambarkan pers pada masa Revolusi Nasional, termasuk pembentukan PWI. Lalu juga menunjukkan keadaan pers yang disensor besar-besaran saat Orde Baru, serta menunjukkan kondisi pers setelah dimulainya era Reformasi tahun 1998 yang melonggarkan kebebasan pers.
Museum tersebut juga memiliki artefak milik para jurnalis dari berbagai zaman. Beberapa di antaranya adalah mesin ketik Underwood milik Bakrie Soeraatmadja, jurnalis Sipatahoenan dari Bandung, baju yang dipakai Hendro Dubroto saat meliput pendudukan Indonesia di Timor Timur tahun 1975. Perlengkapan parasut Trisnojuwono ketika meliput gerhana matahari 11 Juni 1983, dan kamera Fuad Muhammad Syafruddin, jurnalis Bernas dari Yogyakarta yang dibunuh setelah mengangkat skandal korupsi tahun 1995. Dan juga Artefak lainnya milik jurnalis seperti Mochtar Lubis masih disimpan di museum ini per Oktober 2013.
Lokasi Monumen Pers Nasional.
Lokasi Monumen Pers Nasional yang merupakan salah satu warisan cagar budaya di Solo, terutama bagi sejarah perkembangan pers nasional di Indonesia ini berada di depan bundaran Jalan Gajah Mada dan Jalan Yosodipuro, Solo. Sejak 2005 hingga saat ini, monumen Pers Nasional dikelola Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) dan dibuka untuk umum. (Doi)


