Jumat, Januari 30, 2026
No menu items!
IKLAN DISINI

Peran Wartawan Merebut Kemerdekaan

KARTASURA (wajah.co)– Perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia, tidak hanya dilakukan oleh para pahlawan yang diketahui masyarakat umum saja, tetapi juga melibatkan perjuangan para wartawan.

Para wartawan kala itu dengan penuh semangat menyebarkan seluruh informasi tentang perlawanan bangsa Indonesia kepada masyarakat luas guna membakar semangat untuk melawan kolonial.

Sejarah perjalanan peran wartawan tersebut, tersusun secara rapi dalam Monumen Pers Nasional yang berada di Kota Surakarta. Dalam monumen tersebut masyarakat dapat mengetahui apa saja peran pers dalam membantu meraih kemerdekaan Republik Indonesia.

Salah satunya, Radio Kambing yang merupakan pemancar radio yang digunakan untuk menyiarkan berita-berita yang membakar semangat masyarakat Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.

Pada tahun 1948-1949 Belanda melancarkan agresi militer II ke Nusanantara, saat itu Belanda meminta kepada pemerintah pusat Indonesia untuk mengambil alih seluruh aset radio di sejumlah daerah. Ditambah Pemerintah Pusat Indonesia juga melarang penyiaran.

“Mengetahui hal tersebut, pejuang penyiaran langsung mengambil dan mengungsikan pemancar dari Radio Republik Indonesia (RRI) Surakarta, dan disembunyikan di salah satu rumah warga yang berada di Lereng Gunung Lawu tepatnya di Desa Balong Kecamatan Jenawi Kabupaten Karang Anyar,” ujar Ayu, pemandu yang berada di Museum Pers Nasional, Surakarta.

Dalam perjuangan mengamankan pemancar radio tersebut dari tangan Belanda, para pejuang penyiar harus menempuh jarak hingga puluhan kilometer, dan juga harus siap dengan segala resiko yang sewaktu-sewaktu dapat tertangkap oleh Belanda.

Ayu menuturkan, pemancar radio tersebut digotong oleh 12 orang jurnalis, dan untuk memindahkan pemancar itu pun hanya dilakukan pada malam hari, guna menghindari sergapan pihak Belanda.

“Radio Kambing ini merupakan sebutan yang diberikan oleh masyarakat yang saat itu sangat ditunggu-tunggu masyarakat, pada saat on air kerap kali terdengar suara mengembik dari kandang kambing yang berada tidak jauh dari rumah persembunyian pemancar radio tersebut,” kata dia.

Museum Pers Nasional ini terdiri dari tiga lantai, yang setiap lantainya memiliki fungsi yang berbeda. Pada lantai dasar atau satu berfungsi sebagai museum yang berisi berbagai macam arsip. Kemudian pada lantai dua berfungsi sebagai perpustakaan dan terdapat ruang transkip arsip fisik menjadi digital. Lantai tiga berfungsi sebagai tempat perbaikan arsip apabila terdapat kerusakan.

Dalam museum ini, pengunjung dapat melihat sejarah tentang awal mula surat kabar pertama yang beredar di Nusantara, kemudian surat kabar pertama yang menggunakan bahasa Indonesia yang beredar di Indonesia, selain surat kabar di dalam museum ini juga terdapat majalah yang memuat tulisan milik Soekarno serta majalah pertama yang ada di Nusantara.

Selain itu juga, museum ini juga menyimpan berbagai macam jenis kamera dan mesin ketik yang digunakan para jurnalis untuk menyebarkan informasi terkait perkembangan Indonesia. (Pps)

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Google search engine
- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments