Jumat, Januari 30, 2026
No menu items!
IKLAN DISINI

Pekan Depan, Masyarakat Bogorejo Gelar Grebeg Suro

PESAWARAN (wajah.co)–Tradisi dan adat istiadat yang mengakar di kehidupan masyarakat biasanya menyiratkan pesan mendalam tentang rasa syukur kepada tuhan serta upaya menjalin kerukunan sesama manusia.

Ternyata, tradisi seperti itu masih tumbuh subur di desa Bogorejo, Kecamatan Gedongtataan, Pesawaran. Salah satunya melalui perayaan Grebeg Suro yang dirayakan setahun sekali untuk menyambut tahun baru Muharam dan tahun baru bulan Suro dalam tradisi masyarakat jawa.

Terkait hal itu, pemerintah desa dan masyarakat Bogorejo, Kecamatan Gedongtataan akan merayakan hari jadi ke-33 dengan menggelar Kirab Budaya Grebeg Suro.

Acara itu juga bertepatan dengan perayaan Tahun Baru Islam 1 Muharram 1447 Hijriah sekaligus hari jadi ke-18 Kabupaten Pesawaran.

BACA JUGA:  Terget Penerimaan Pajak Samsat Pesawaran Tembus Rp55 Miliar

Kirab budaya akan berlangsung pada Senin (7-7-2025) dan ditutup dengan malam puncak berupa pagelaran wayang kulit semalam suntuk di balai desa setempat.

Kepala Desa Bogorejo, Hermansyah menjelaskan, perayaan itu merupakan wujud syukur atas karunia Tuhan berupa kesuburan tanah, rezeki, dan kesehatan bagi seluruh warga.

“Kirab budaya ini juga melibatkan berbagai atraksi dan tampilan seni tradisional, yang menunjukkan kekayaan budaya desa,” ujarnya, Senin (30-6-2025).

Herman menyebut, rangkaian kegiatan tersebut terbagi tiga: memperingati hari jadi Desa Bogorejo, hari jadi Kabupaten Pesawaran serta peringatan Tahun Baru Islam 1 Muharram 1447 Hijriyah.

BACA JUGA:  Jelang Ramadhan, Harga Bahan Pokok Merangkak Naik

“Hari Senin, tanggal 07 Bulan 07, kita bersama masyarakat melaksanakan kirab budaya, dan malamnya kita tutup dengan pagelaran Wayang Kulit semalam suntuk,” tambahnya.

Kemudian acara dilanjutkan dengan Merti desa, atau bersih desa, adalah upacara adat Jawa yang merupakan wujud rasa syukur masyarakat kepada Tuhan atas segala karunia dan rezeki yang diberikan, seperti hasil panen yang melimpah dan keselamatan.

“Selain itu, tradisi ini juga menjadi sarana untuk mempererat tali silaturahmi antarwarga desa, Tradisi ini juga merupakan bentuk pelestarian warisan budaya nenek moyang, menjaga nilai-nilai luhur dan kearifan lokal,”pungkasnya. (Indra).

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Google search engine
- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments