Kamis, Januari 29, 2026
No menu items!
IKLAN DISINI

Mengarsipkan Karya Seni, Tugas Kebudayaan untuk Hari Depan

PESAWARAN (wajah.co)– Kerja kearsiapan dalam bidang seni dan budaya, adalah juga kerja untuk masa depan, dengan arsip dokumentasi yang tersimpan dengan baik dapat pula dipelajari unsur-unsur yang terkandung di dalamnya.

Tanpa jejak dokumentasi, hilanglah nilai dan pesan yang disampaikan dalam karya seni. Padahal, mestinya arsip tersebut jadi referensi untuk kemajuan kerja kebudayaan di hari depan.

Gagasan itu mencuat dalam Kuliah Publik bertajuk “Apa Itu Arsip Seni? Mengenal Arsip Seni Rupa Indonesia” yang digelar Dicti Art Laboratory bekerja sama dengan sejumlah lembaga pendidikan dan museum pada Jumat, 22 Agustus 2025 lalu.

Acara yang berlangsung daring melalui Zoom meeting ini menghadirkan narasumber Dr. Mikke Susanto, Kepala Program Studi (Kaprodi) Magister Tata Kelola Seni Sekolah Pascasarjana Intitut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.

Mikke menekankan pentingnya arsip seni. Arsip seni tak sekadar catatan administrasi, melainkan bagian penting dari keberlanjutan sejarah, penelitian, hingga legitimasi sebuah karya.

“Arsip seniman adalah keniscayaan. Ini berfungsi mengukur eksistensi, prestasi, hingga menjadi bukti autentik yang tak bisa dimanipulasi. Sayangnya, tradisi arsip di Indonesia masih lemah karena budaya kita lebih menekankan oral (lisan),” ujar Mikke.

Mikke juga menguraikan berbagai persoalan krusial yang muncul akibat lemahnya pengarsipan seni rupa di Indonesia, mulai dari maraknya peredaran lukisan palsu, sulitnya riset sejarah seni, hingga problem pelanggaran hak cipta.

Menurut dia, tanpa dokumentasi yang memadai, sulit bagi generasi mendatang untuk menelusuri perkembangan seni rupa dan menempatkannya dalam konteks sosial budaya yang tepat.

Ia menjelaskan, arsip seni terbagi dalam dua kategori: arsip dinamis dokumen yang masih digunakan dalam proses berkarya seperti sketsa atau kontrak pameran. Kemudian, arsip statis, yaitu catatan lama yang bernilai historis, misalnya katalog pameran atau korespondensi seniman yang sudah wafat.

“Keduanya penting, karena di situlah perjalanan kreatif seorang seniman bisa ditelusuri,” kata Mikke.

Kuliah publik ini disambut antusias peserta dari berbagai latar belakang, mulai dari mahasiswa seni, peneliti, hingga pengelola galeri.

Diskusi mengerucut pada kebutuhan mendesak membangun kesadaran pengarsipan, baik oleh seniman sendiri maupun lembaga.

Sejumlah lembaga independen seperti Indonesia Visual Art Archive (IVAA) Yogyakarta dan Warung Arsip disebut Mikke sebagai contoh inisiatif yang patut diapresiasi.

Bagi Mikke, arsip bukan sekadar tumpukan kertas atau file digital. Arsip bisa menjadi karya seni itu sendiri, ruang kritik, bahkan medium kuratorial.

“Kita bekerja untuk masa depan. Arsip adalah cara menjaga agar seni tidak sekadar hadir di masa kini, tetapi juga hidup di masa depan,” pungkasnya. (jay).

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Google search engine
- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments