Vietnam (wajah.co)– Hari keempat di Kota Ho Chi Minh, Vietnam saya isi dengan berkeliling kota dan mencoba kuliner dan kudapan lokal.
Cuaca pagi selama di negara yang dijuluki Naga Biru ini memang tak pernah terik, sedikit lembab, dan di pagi hari jalanan sudah ramai dengan lalu lalang kendaraan seperti pagi sebelumnya.
Saya bersama sejumlah mahasiswa lokal dan mahasiswa Universitas Lampung berjalan kaki menuju Ben Thanh Market –pusat kuliner dan makanan kaki lima Vietnam. Banyak penjual makanan tradisional yang sudah buka sejak pagi.
Saya mulai dengan semangkuk sup berkuah khas Vietnam, warga setempat menyebutnya Pho. Semacam sup berkuah bening, agak asam, dengan aroma serai dan rempah yang kuat. Isinya mie pipih dengan sayuran segar sederhana seperti tauge, tomat, daun bawang, dan sedikit potongan ikan.
Rasanya berbeda dari masakan Indonesia, tapi tetap enak. Mungkin karena bumbunya tidak terlalu menyengat dan berasal dari bahan yang segar. Lidah saya tidak langsung cocok, tapi lama-lama mulai bisa menikmati keseimbangan rasanya.
Vietnam tampaknya memang menyukai makanan berkuah dan segar, itu bisa dibuktikan dari daftar menu makan di seluruh warung makan.
Di setiap meja makan selalu tersedia sayur mentah, jeruk nipis, dan sambal cair. Tidak banyak minyak atau santan seperti di Indonesia. Semuanya terasa bersih dan ringan di lidah.
Menjelang siang, saya mencoba Tomyam Vietnam di sebuah restoran kecil di kawasan Saigon Riverside — kawasan wisata urban di bantaran sungai Mekong. Tomyam itu kuahnya gurih dan kaya rempah, tapi tidak terlalu pedas, di dalamnya ada udang, jamur, dan serai. Rasanya sedikit berbeda dari tomyam Thailand yang biasa saya coba, tapi tetap bisa dinikmati.
Oh iya, kawasan Saigon atau sebutan lain dari Kota Ho Chi Minh juga dikenal dengan seafoodnya. Karena letaknya dekat laut, banyak restoran di pinggir jalan yang menjual hasil tangkapan segar. Ada udang, kepiting, dan cumi-cumi ditata di atas es, dan pembeli bisa memilih langsung sebelum dimasak.
Sore hari saya mencari makanan halal. Di kawasan District 1 ada restoran bernama Musa Karim, cukup terkenal di kalangan wisatawan muslim.
Tempatnya kecil tapi ramai. Saya memesan nasi, ikan kakap kukuh bersaus tomat dan ayam goreng. Rasanya mirip dengan masakan rumahan Indonesia, dan untuk pertama kalinya sejak datang ke sini, saya merasa seperti makan di rumah sendiri.
Setelah itu saya berjalan ke District 5, yang dikenal sebagai kawasan komunitas India dan Tionghoa. Di sana banyak restoran India berjajar di sepanjang jalan.
Saya mencoba roti prata dan kari ayam di salah satu restoran. Pelayan di sana berbicara dalam bahasa Inggris dengan aksen lembut, dan suasana di dalamnya terasa hangat.
Menjelang jam makan malam, jalanan mulai dipenuhi aroma masakan dari berbagai arah, ada yang beraroma bumbu panggang, kari, dan aroma kopi.
Lampu-lampu toko menyala satu per satu. Saya duduk sebentar di taman kecil dekat alun-alun, membawa segelas kopi susu Vietnam. Rasanya pahit di awal, tapi kemudian manis dan lembut.
Hari keempat di Ho Chi Minh berakhir dengan rasa kenyang dan tenang. Dari semua tempat yang saya datangi, makanan Vietnam memberi kesan tersendiri aneh di awal, tapi lama-lama bisa diterima.
Mungkin karena, seperti perjalanan ini sendiri, semuanya butuh waktu untuk terbiasa dan bisa dinikmati. Seperti juga hidup dan semua hal di dalamnya, yang justru baru bisa kita nikmati setelah melewati proses panjang dan penyesuaian.
Nampaknya, kuliner Vietnam jadi representasi warganya yang sabar melewati berbagai peristiwa penting, termasuk juga mengalami peperangan yang panjang selama sepuluh tahun melawan Amerika pada 1955 hingga 1965. (jay)


