Jumat, Januari 30, 2026
No menu items!
IKLAN DISINI

Ini Wujud Radio yang Menyiarkan Propaganda Anti Belanda

SURAKARTA (wajah.co)– Monumen Pers Nasional yang ada di Kota Surakarta menyimpan sejarah perkembangan pers di Indonesia mulai dari masa kolonial hingga saat ini.

Selain koran, yang pada masa itu dijadikan salah satu alat propaganda bagi penjajah atau pun bagi pejuang, peran radio pun cukup penting di masa menjelang kemerdekaan Negara Republik Indonesia. Baik untuk kaum pergerakan pejuang kemerdekaan ataupun sebagai salah satu sarana diplomasi.

Dari kunjungan PWI Kabupaten Pesawaran ke Monumen Pers Nasional (Selasa, 22 April 2025) diketahui, peran radio memiliki andil penting bagi kemerdekaan dan diplomasi pada masa kemerdekaan Republik Indonesia masih seumur jagung.

Radio Kambing, Alat Propaganda Antiagresi Belanda

Kisah radio sebagai alat propaganda mengingatkan kita pada Radio ‘Kambing’ yang digunakan saat Agresi Militer Belanda II pada 1948-1949, membuat sulit insan penyiaran walau Indonesia dinyatakan sudah merdeka.

Mulanya, Belanda memaksa Pemerintah Republik Indonesia untuk menyerahkan aset-aset radio di sejumlah daerah pada masa agresi tersebut. Pemerintah pusat Indonesia juga melarang penyiaran saat itu. Pelarangan itu karena sekutu akan datang semakin banyak ketika mengetahui pemancar radio sudah diambil lebih dulu oleh para pejuang penyiaran.

Mereka mengungsikan pemancar dari RRI Surakarta, namun di perjalanan harus ketahuan Belanda sehingga langsung mendapatkan serangan. Tapi pemancar beserta alat radio yang berhasil diselamatkan langsung dibawa ke tempat persembunyian di salah satu rumah warga Lereng Gunung Lawu, Jawa Tengah. Tepatnya, di Desa Balong, Kecamatan Jenawi Kabupaten Karanganyar, setelah melalui perjalanan selama kurang lebih dua pekan.

Disebut sebagai Radio “Kambing” oleh pendengar RRI karena pada saat siaran kerap terdengar suara mengembik dari kandang kambing yang terletak tidak jauh dari rumah warga tersebut.

Sebelumnya, Radio ‘Kambing’ juga menyiarkan proklamasi kemerdekaan Indonesia yang dibacakan oleh Soekarno pada 17 Agustus 1945. Radio itu masih dipakai hingga 1950.

Radio Sebagai Sarana Diplomasi

Adalah sosok Gusti Noeroel dibalik peran diplomasi budaya melalui radio dari Indonesia ke Belanda.

Sosok wanita ayu dengan nama lengkap G.R.Ay Gusti Raden Ayu Siti Noeroel Kamaril Ngasarati Kusumawardhani adalah putri tunggal dari Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo Mangkunegoro VII  dari permaisurinya, Gusti Kanjeng Ratu Timoer.

Ayah Gusti Noeroel adalah seorang Adipati Mangkunegaran yang beristrikan putri dari Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Ibu Gusti Noeroel adalah puteri ke-12 Sultan Hamengku Buwono VII dari permaisuri ketiga, G.K.R. Kencono. Nama asli ibunya adalah G.R.Ay. Mursudarijah.

Kecantikan Gusti Noeroel yang termasyhur ini juga dibarengi dengan kepiawaiannya menari. Suatu kali, di usianya yang masih 15 tahun, Gusti Noeroel diminta datang secara khusus untuk menari di hadapan Ratu Wilhelmina di Belanda. Tarian tersebut dipersembahkan sebagai kado pernikahan Putri Juliana– putri kerajaan Belanda.

Menariknya, saat itu rombongan dari Mangkunegaran tidak membawa gamelan untuk mengiringi tarian Gusti Nurul. Tarian itu diiringi alunan gamelan yang dimainkan dari Pura Mangkunegaran dan dipancarkan melalui Solosche Radio Vereeniging, yang siarannya bisa ditangkap dengan jernih di Belanda.

Hal itu merupakan kali pertama Radio Indonesia mengudara secara langsung dari Indonesia sampai ke negeri Belanda.

Diketahui Gusti Noeroel terkenal memiliki paras wajah yang cantik. Karena kecantikannya, pada saat itu Gusti Noeroel menjadi primadona di Kota Solo dan didambakan para tokoh negara.

Mulai dari mantan Perdana Menteri Sutan Sjahrir yang biasa mengirimkan kado melalui sekretarisnya ke kediaman Gusti Noeroel di Pura Mangkunegaran ketika rapat kabinet digelar di Yogyakarta.

Gusti Noeroel juga didambakan oleh Kolonel GPH Djatikusumo, salah seorang prajurit militer. Yang menarik adalah Presiden Sukarno yang juga tertarik dengan Gusti Noeroel nemun konon kalah bersaing dengan Sutan Sjahrir.

Tokoh negara lainnya yang mencoba meminang Gusti Moercel adalah Sri Sultan Hamengku Buwono IX yang memiliki 5 orang garwa. Namun semua tokoh tersebut tak ada satupun yang berhasil memikat hati Gusti Noeroel. Putri bangsawan ini memutuskan untuk menerima pnangan seorang miiter berpangkat letnan kolonel yang bernama RM Soero Soeyarso.

Adapun sejarah radio di Indonesia dimulai pada awal abad ke-20, ketika pemerintah kolonial Belanda memperkenalkan teknologi radio di Indonesia. Berikut adalah beberapa tahapan penting dalam sejarah radio di Indonesia:

Pada masa Kolonial (1920-an), radio pertama kali diperkenalkan di Indonesia oleh pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1920-an. Stasiun radio pertama di Indonesia adalah NIROM (Nederlandsch-Indische Radio Omroep Maatschappij) yang didirikan pada tahun 1928.

Pada masa pendudukan Jepang (1942-1945), radio digunakan sebagai sarana propaganda dan kontrol informasi. Jepang mendirikan stasiun radio yang disebut Hoso Kanri Kyoku untuk menyiarkan berita dan informasi kepada masyarakat Indonesia.

Dan pada masa Kemerdekaan (1945), radio menjadi sarana penting untuk mempromosikan semangat nasionalisme dan kemerdekaan. Radio Republik Indonesia (RRI) didirikan pada tanggal 11 September 1945 oleh beberapa tokoh penting, termasuk M. Jusuf Ronodipuro dan Abdulrahman Saleh. (Bambang T)

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Google search engine
- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments