Vietnam (wajah.co)– Mengamati negara Vietnam dari dekat memang membawa kesan tersendiri, utamanya saat saya menyaksikan denyut nadi masyarakat di Kota Ho Chi Minh, nama yang berasal dari tokoh komunis pendiri Republik Demokratik Vietnam.
Kesan negara komunis yang kaku dan berwajah seram justru tidak tampak saat aku menginjakan kaki di Bandara Than So Nhat.
Bandara Tan Son Nhat (SGN) adalah bandara tersibuk di Kota Ho Chi Minh. Bandara ini berlokasi sekitar enam kilometer dari pusat kota dan memiliki dua terminal utama untuk penerbangan domestik dan internasional.Â
Hari pertama di Ho Chi Minh, Selasa (28-10-2025) aktivitas kami dimulai cukup pagi dengan mengjirup udara yang terasa lembab, namun juga sejuk karena tidak begitu terik.
Dari jendela penginapan di kawasan Saigon, saya bisa melihat sepeda motor matic mulai memenuhi jalan, beraktivitas layaknya di kota kota besar di Indonesia. Lalu lintas di kota Ho Chi Minh padat sejak pagi, tapi tetap bergerak dengan teratur, menunjukan warga kota yang taat lalu lintas.
Oh iya, kesempatanku ke Vietnam ini adalah bagian dari tugas Kuliah dari Magister Ekonomi Universitas Lampung. Belasan mahasiswa, termasuk aku di dalamnya, bersama sejumlah civitas akademika akan melangsungkan kuliah si salah satu kampus di Vietnam.
Hari pertama, tujuan kami adalah melihat Landmark 81, bangunan tertinggi di Vietnam yang juga mencari salah satu pusat perbelanjaan terbesar di negara yang tidak alergi dengan lambang palu arit ini.
Dari luar, gedungnya terlihat modern dan bersih. Di sepanjang pinggir jalan ada banyak toko dan kafe. Sebagian besar pengunjung adalah keluarga muda dan pekerja kantoran. Saya sempat mencoba kopi Vietnam di salah satu kafe. Rasanya kuat dan agak manis karena dicampur susu kental manis dengan citarasa khas lidah warga setempat.
Kemudian, langkah kakiku berlanjut hingga area taman di depan gedung 81, Sungai Mekong terlihat mengalir tenang, membelah kota menjadi dua sisi yang berbeda gedung-gedung tinggi di satu sisi, dan perumahan padat di sisi lainnya.
Menjelang jam makan siang, saya ikut perjalanan singkat ke Delta Sungai Mekong, sekitar dua jam dari pusat kota.
Di sana, suasananya jauh lebih tenang. Banyak perahu kecil yang digunakan warga untuk berjualan buah dan sayur di sungai, tampak mirip dengan pasar apung di Kalimantan Selatan.
Sungainya lebar, airnya berwarna coklat muda seperti kopi susu yang sedap disesap menemani sebatang rokok kretek. Saya menyempatkan bicara sebentar dengan seorang perempuan yang menjual kelapa muda.
Sore harinya saya kembali ke kota. Di kawasan District 1, terutama di sekitar Jalan Nguyen An Ninh, memang banyak restoran halal. Tulisannya besar di papan nama Halal Food, Muslim Friendly.
Saya makan malam di salah satu restoran yang menyajikan pho halal. Pemiliknya, Tran Anh, bercerita bahwa banyak pelanggan muslim berasal dari Indonesia dan Malaysia.
Setelah makan, saya berjalan sebentar ke Ben Thanh Market. Pasar ini ramai sejak sore sampai malam. Di dalamnya ada berbagai macam barang kerajinan berbahan kain tenun, tas, suvenir serta kopi bubuk.
Menjelang malam, jalan di sekitar pasar semakin ramai. Lampu-lampu dari motor dan toko membuat suasana kota tetap terang.
Saya kembali ke penginapan dengan perasaan lelah tapi cukup puas. Hari pertama di Ho Chi Minh cukup berkesan. Kota ini terasa hidup, tapi tidak tergesa-gesa. (jay)


